Demo Sopir Taksi Berakhir Pahit

demo-taksi-dite1.jpgSEMARANG – Unjuk rasa sopir taksi Semarang menolak masuknya taksi Blue Bird harus dibayar mahal. Sudah tiga hari bertahan di balai kota dan tidak narik, namun hasilnya sangat mengecewakan. Walikota tetap meloloskan masuknya Blue Beird ke kota lunpia. Para sopir taksi dipaksa menelan kenyataan pahit.
Yang lebih menyakitkan, petang kemarin mereka disweeping oleh aparat kepolisian. Sweeping perintah walikota itu untuk menggusur taksi yang mogok tiga hari di balaikota dan Jl Pemuda. Karena ketakutan para sopir taksi pun memilih meninggalkan lokasi.
Sebelumnya, mereka nekat bertahan di halaman balai kota dan menempatkan mobilnya di sepanjang Jalan Pemuda sampai tuntutan dikabulkan. Namun walikota menggunakan alat kekuasaan dengan mengancam para pendemo yang tetap mogok.
Para sopir sempat berencana melanjutkan aksinya di kantor Gubernur Jateng Jalan Pahlawan. Sebagian lagi mengusulkan akan berdemo di Wisma Perdamaian, kediaman resmi Gubernur Jateng. Namun rencana itu batal semua. Menjelang pukul 18.00 ratusan
supir taksi memilih bubar dan membawa semua taksi meninggalkan Jalan Pemuda menuju ke rumah masing-masing. Mereka takut dengan kedatangan aparat kepolisian yang siap menderek taksi mereka.
“Kami akan terus bertahan sampai tuntutan kami dipenuhi, kita sudah terlanjur demo selama tiga hari,” kata Yusuf salah seorang
peserta aksi.
Demikian juga dengan Maman, salah seorang supir taksi Kosti yang begitu bersemangat untuk terus menggelar aksi hingga wali kota
membatalkan ijin taksi Blue Bird beroperasi di Semarang.
Namun melihat rekan-rekannya sudah kelelahan, Maman yang biasanya penuh semangat juga mulai lunglai. “Kalau sudah menjadi keputusan teman-teman, saya hanya manut saja,” katanya lirih. Apalagi para supir mendengar kalau armadanya tetap bertahan di Jalan Pemuda, akan disweeping oleh petugas terkait kedatangan
presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Semarang hari Minggu di Akpol.
“Daripada mobil kita diderek, lebih baik dibawa pulang,” kata seorang supir taksi.
Kegagalan para supir ini memang harus dibayar sangat mahal. Tiga hari tidak narik, otomatis tidak ada penghasilan yang diterima. meski dibebaskan menyetor ke kantor, namun setoran untuk keluarga seperti anak dan istri tidak boleh berhenti karena mereka juga butuh makan dan biaya sekolah. (sgt)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s