Wanita STW Diperkosa!

BANTUL – Lhadalah, seorang wanita setengah tuwa (STW) jadi korban perkosaan! Itulah yang menimpa Mbok Dar (41), warga Banguntapan Bantul. Ia mengaku diperkosa oleh seorang sopir, bernama Heri (42), warga Jambidan Banguntapan Bantul. Dramatisnya, aksi perkosaan itu terjadi di sebuah gubuk reyot tenah sawah kawasan Dusun Kepuh Wetan Wirokerten Banguntapan Bantul. Yang heboh, korban diperkosa sampai empat kali. Sampai korban semaput! Rabu (12/12) siang kemarin, kasus yang terjadi pada malam harinya itu dilaporkan ke Mapolres Bantul.
Informasi yang dihimpun METEOR mengungkapkan, aksi perkosaan itu menurut keterangan korban sudah direncanakan secara matang oleh pelaku. Dirinya tidak menyadari sama sekali. Bermula ketika korban sering curhat kepada pelaku soal anaknya yang sedang tersandung masalah hukum. Korban dan pelaku hanya tetangga kampung. Setiap kali disambati, pelaku yang sok pintar dan sok jagoan itu selalu berusaha memberi solusi. Dia juga mengaku bisa menyelesaikan masalah anaknya. Bahkan, bisa nyelesaikan semua problema yang membelenggu korban dan anaknya. Pelaku menyatakan siap menjadi mediator pihak korban terhadap pihak lawan, termasuk urusan sama polisi.
Malam itu, sekitar pukul 19.30, pelaku mengajak pergi korban ke suatu tempat untuk membahas masalah anak korban. Alasannya, pelaku merasa naïf, jika solusi yang akan diberikan ke korban didengar tetangga atau orang lain.
Korban percaya. Korban setuju saat diajak pergi pelaku. Bahkan, saat diajak ke tengah sawah yang sepi dan berhenti di sebuah gubuk reot milik petani, warga setempat.
“Sebelum diperkosa, saya sempat tanya, kok ke sawah membahas masalahnya? Dia (Heri) jawab, agar tidak terdengar tetangga,” tutur korban.
Nah, di tengah gubuk itulah, arah pembicaraan pelaku berubah. Ia mengaku tertarik sama korban dan menyampaikan keinginannya untuk menyetubuhi korban, sebelum membahas persoalan anaknya.
Sambil merayu, tangan pelaku mulai mek-mekan. Ia meremas bagian-bagian sensitive wanita STW tersebut. Terang saja korban berusaha menghentikan aksi bejat itu. Tapi, pelaku tetap nekat dan terus memacu libidonya. Akhirnya, korban meronta dan mengancam hendak berteriak minta tolong. Pelaku yang sudah kesetanan tak bisa menahan diri. Dia mengeluarkan gombal, lalu membekap mulut korban. Sambil nyengkiwing (mengunci) tangan korban, pelaku melucuti pakaian korban. Korban kehabisan tenaga.
“Saya tak berdaya, saya tidak bisa berteriak minta tolong, mulut saya disumpal gombal, tangan saya dipithing, saya hanya bisa menagis,” imbuh Mbok Dar kepada petugas.
Korban juga ketakutan. Pasalnya, pelaku juga sempat mengancam akan menganiaya bahkan hendak membunuhnya.
Akhirnya, korban hanya bisa pasrah dalam uraian air mata. Pelaku dengan nafas terangah-engah berhasil menjebol ‘gawang’ wanita setengah tuwa tersebut. Hingga moncrot, hingga mencapai orgasme. Babak pertama usai, pelaku ambil nafas puas dalam-dalam. Korban masih dalam kondisi tersumpal gombal mulutnya dan telanjang, masih tak berdaya akibat ditindih pelaku. Selang beberapa menit, libido pelaku timbul lagi. Babak kedua pun berlanjut. Tak kalah serunya, korban hingga dibuat meringis, merintih kesakitan. Hebohnya, aksi perkosaan itu terjadi empat kali. Korban terus diberondong hingga benar-benar kehabisan tenaga. Korban semaput.
Bagaimana dengan masalah anaknya? Terang saja tidak beres, wong itu hanya kedok untuk mengelabuhi korban. Menjelang tengah malam, korban tersadar. Kondisinya awut-awutan. Vaginanya terasa perih. Korban toleh kanan toleh kiri. Yang ada gelap dan berada di tengah sawah. Kesadarannya segera pulih. Korban yang masih telanjang itu bergegas mengenakan pakaiannya. Mata korban menyisir malam dan tidak mendapati pelaku. Rupanya, pelaku setelah nggenjrot dirinya bertubi-tubi dan mendapati dirinya tak sadarkan diri, langsung minggat begitu saja.
Entahlah, mungkin perkosaan itu lebih dari empat kali. Mungkin saat pingsan si pelaku masih nambah lagi. Tapi empat kali itulah yang diingat dan dilaporkan korban. Korban langsung pulang. Dia meratapi nasibnya seorang diri.
Setelah dipikir-pikir, korban akhirnya bulat hati untuk melaporkan kasus tersebut ke Polres Bantul. Siang kemarin, korban mendatangi Mapolres Bantul seorang diri. Ia diterima petugas jaga, lalu diantar ke Ruang Unit Satreskrim Lantai II Polres Bantul, langsung menjalani pemeriksaan. Korban blak-blakan, cerita apa adanya.
Namun, keterangan korban masih sepihak. Tidak ada saksi. Andai saja gubuk reot itu bisa bicara?!
Yang jelas, laporan korban diterima dan kasusnya segera ditindaklanjuti. Petugas bakalan memanggil terlapor untuk dimintai keterangan. (gun)

Demo Sopir Taksi Berakhir Pahit

demo-taksi-dite1.jpgSEMARANG – Unjuk rasa sopir taksi Semarang menolak masuknya taksi Blue Bird harus dibayar mahal. Sudah tiga hari bertahan di balai kota dan tidak narik, namun hasilnya sangat mengecewakan. Walikota tetap meloloskan masuknya Blue Beird ke kota lunpia. Para sopir taksi dipaksa menelan kenyataan pahit.
Yang lebih menyakitkan, petang kemarin mereka disweeping oleh aparat kepolisian. Sweeping perintah walikota itu untuk menggusur taksi yang mogok tiga hari di balaikota dan Jl Pemuda. Karena ketakutan para sopir taksi pun memilih meninggalkan lokasi.
Sebelumnya, mereka nekat bertahan di halaman balai kota dan menempatkan mobilnya di sepanjang Jalan Pemuda sampai tuntutan dikabulkan. Namun walikota menggunakan alat kekuasaan dengan mengancam para pendemo yang tetap mogok.
Para sopir sempat berencana melanjutkan aksinya di kantor Gubernur Jateng Jalan Pahlawan. Sebagian lagi mengusulkan akan berdemo di Wisma Perdamaian, kediaman resmi Gubernur Jateng. Namun rencana itu batal semua. Menjelang pukul 18.00 ratusan
supir taksi memilih bubar dan membawa semua taksi meninggalkan Jalan Pemuda menuju ke rumah masing-masing. Mereka takut dengan kedatangan aparat kepolisian yang siap menderek taksi mereka.
“Kami akan terus bertahan sampai tuntutan kami dipenuhi, kita sudah terlanjur demo selama tiga hari,” kata Yusuf salah seorang
peserta aksi.
Demikian juga dengan Maman, salah seorang supir taksi Kosti yang begitu bersemangat untuk terus menggelar aksi hingga wali kota
membatalkan ijin taksi Blue Bird beroperasi di Semarang.
Namun melihat rekan-rekannya sudah kelelahan, Maman yang biasanya penuh semangat juga mulai lunglai. “Kalau sudah menjadi keputusan teman-teman, saya hanya manut saja,” katanya lirih. Apalagi para supir mendengar kalau armadanya tetap bertahan di Jalan Pemuda, akan disweeping oleh petugas terkait kedatangan
presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Semarang hari Minggu di Akpol.
“Daripada mobil kita diderek, lebih baik dibawa pulang,” kata seorang supir taksi.
Kegagalan para supir ini memang harus dibayar sangat mahal. Tiga hari tidak narik, otomatis tidak ada penghasilan yang diterima. meski dibebaskan menyetor ke kantor, namun setoran untuk keluarga seperti anak dan istri tidak boleh berhenti karena mereka juga butuh makan dan biaya sekolah. (sgt)

Bocah Kembar Bersisik Ikan

MANUSIA KEMBAR BERSISIK IKANSALATIGA—Dunia ini makin aneh saja. Baru saja di Bandung ditemukan ‘manusia akar’ karena sekujur tubuhnya tumbuh ‘kutil’ seperti akar, di Salatiga dua bocah kembar bersisik ikan. Kok bisa?
Bocah kembar itu namanya Dina Kusumawati (6), dan Nina Kusumawati (6). Dua putri kecil ini memiliki keanehan pada kulit tubuhnya. Kedua bocah anak pasangan Sunarto (48)-Riyanti (45) warga Dukuh Kenteng RT 05 RW VI, Kelurahan Tegalrejo Salatiga ini tubuhnya bersisik seperti ikan.
Sunarto, bapak bocah kembar ini menuturkan, keanehan anaknya itu muncul satu bulan setelah dilahirkan. Sebelumnya, kulit bocah kembar tersebut salalu berair.
”Sisik di tubuhnya muncul setelah anak kembar saya berumur satu bulan,” kata Sunarto saat ditemui di rumahnya, Selasa ( 11/12) kemarin.
Menurut lelaki yang bekerja sebagai tukang batu ini, waktu dilahirkan pada 28 Mei 2001 silam, kedua anaknya memiliki berat yang kurang ideal. Nina saat lahir hanya memiliki berat 2 Kg sedangkan Dina 1,8 Kg. Karena kondisi kesehatan kedua bayi tersebut, banyak yang menyangsikan kelangsungan hidupnya. “ Namun Alhamdulliah, kedua anak saya tumbuh sehat, meski ada gangguan di kulitnya,” kata bapak empat anak ini.
Berbagai upaya pengobatan baik secara medis maupun alternatif telah dilakukan Sunarto dan istrinya. Jika dihitung sudah 6 kali orang tuanya mengobatkan Nina-Dina ke dokter spesialis kulit di Semarang, dengan biaya yang tidak sedikit. Jika ditotal, Sunarto sudah mengeluarkan uang dari kantongnya sendiri sekitar Rp 75 juta. Menurut Sunarto, berdasarkan keterangan dokter, kedua anaknya menderita kelainan dan alergi kulit.
Karena berbagai upaya pengobatan secara medis belum membawa hasil yang memuaskan, maka Sunarto mencoba pengobatan alternatif dengan menemui “orang pintar”. Berbagai daerah telah ia jelajahi seperti Surabaya, Purwokerto, Jogja, Semarang, Demak dan lainnya. Bahkan yang terakhir kali Sunarto mengobatkan anaknya sampai ke Palembang, Sumatera.” Di Palembang, saya diberi ramuan air putih yang diberi doa-doa,” katanya.
Sampai sekarang kondisi bocah kembar tersebut masih belum ada perubahan. Menurut Sunarto, setiap 35 hari ( selapan-jawa,red), sisik-sisik di tubuh anaknya rontok menjadi halus. Namun seminggu kemudian, sisik-sisik itu muncul lagi dan hal tersebut berlangsung terus -menerus.
Yang membuat Sunarto sedih, kedua anaknya kini belum mengenyam bangku sekolah. Diakui Sunarto, sebenarnya Dina-Nina tahun ini sudah sekolah TK, namun karena terbentur biaya, maka sekolah kedua anaknya ditunda.
Dikatakan Sunarto, bahwa ia beberapa kali mendapat bantuan dari para dermawan. Namun bantuan tersebut ia gunakan untuk mengobatkan anaknya. Karena pengobatan kulit anaknya tidak bisa dilakukan dengan Askeskin, kendati ia terdaftar sebagai anggota. Sementara untuk pendidikan, belum ada pihak-pihak yang membantu. Sunarto berharap anaknya segera bisa sekolah.

Gara-gara Ikan Siluman Rawa Pening
Sunarto dan istrinya Riyanti hanya bisa pasrah dan menerima dengan ikhlas kondisi anak kembarnya. Mereka sudah berusaha maksimal untuk kesembuhan buah hati kesayangnnya Dina dan Nina. Meski sampai sekarang kesembuhan itu belum datang.
Adakah peristiwa di balik keanehan bocah kembar itu ? Menurut cerita Sunarto, awal tahun 2001 lalu, ia mancing ikan di Rawa Pening, Tuntang Kabupaten Semarang. Hal itu sering dilakukan karena hobi dan untuk mengisi waktu luang jika jop sebagai tukang batu lagi sepi.
Ketika mancing, bapak empat orang anak ini mendapat tangkapan sepasang ikan. Namun ikan yang didapat Sunarto bukan ikan Mujahir yang selama ini selalu ia dapat jika mancing di Rawa Pening. Namun saat itu ia mendapat ikan yang bentuknya indah seperti ikan hias.” Saya tidak tahu jenis ikan apa, tapi bentuknya indah sekali,” kata Sunarto.
Karena bentuknya indah, maka kedua ikan tangkapannya tidak dimasak, seperti yang dilakukan selama ini. Ikan tersebut ia berikan kepada orang tuanya Saginem (87) yang tinggalnya tidak jauh dari rumah Sunarto. Kemudian sepasang ikan tersebut dimasukkan ke dalam aquarium sebagai hiasan.
Sore ikan dimasukkan ke aquarium, malamnya Saginem diimpeni. Dalam mimpinya ikan di aquarium berubah menjadi seorang wanita cantik berpakaian serba putih. Peri tersebut menyuruh Saginem agar Sunarto mengembalikan sepasang ikan ke Rawa Pening.
Namun mimpi tersebut tidak langsung direspon. Malam berikutnya, Saginem kembali diimpeni, hampir sama dengan mimpi sebelumnya dan hal ini berulang sampai beberapa kali. Nah terakhir kali, Saginem merasa melihat penampakan wanita cantik berbaju serba putih, sebagaimana yang ia lihat di dalam mimpinya. Wanita itu menyuruh Saginem agar anaknya mengembalikan sepasang ikan hias tersebut ke Rawa Pening.
Kali ini Sunarto meresponnya. Pagi 28 Mei 2001, Sunarto mengembalikan sepasang ikan tangkapannya ke Rawa Pening. Pagi itu istrinya Riyanti melahirkan anak kembar yang diberi nama Dina Kusumawati dan Nina Kusumawati.
Entah kenapa, saat dilahirkan ada ganguan di kulit pada tubuh bocah kembar tersebut. Namun belum keluar sisik-sisik di tubuhnya. Saat dilahirkan kulit bocah kembar tersebut mengeluarkan air. Sampai-sampai untuk menghentikan keluarnya air, Sunarto setiap bulannya harus merogoh kocek sampai jutaan untuk membeli salep dan obatnya.
Kaitannya dengan ikan siluman, diceritakan Sunarto, ketika ia berobat ke paranormal di Pelembang, paranormal tersebut menebak bahwa Sunarto suka mancing.” Karena memang benar saya suka mancing, maka saya jawab apa adanya,” kata Sunarto.
Menurutnya, paranormal di Pelembang tersebut mengatakan kejadian yang menimpa anaknya ada kaitannya dengan sepasang ikan yang ia tangkap di Rawa Pening. Paranormal tersebut kemudian menyarankan Sunarto agar meminta maaf kepada yang mbaurekso di Rawa Pening.
Saran dari paranormal tersebut dituruti oleh Sunarto. Setelah dari Pelembang, ia pergi ke Rawa Pening untuk minta maaf dan hal ini dilakukan berkali-kali. Menurut Sunarto sebagaimana kata paranormal di Palembang, Dina-Nina bisa sembuh tapi butuh waktu. Keanehan macam apa yang diderita kedua bocah kembar tersebut ? Ikuti beritanya pada edisi berikutnya.

Kalau Tidur Matanya Tidak Terpejam

Setelah kelahiran anak kembarnya Dina-Nina, keluarga Sunarto diliputi rasa bahagia. Namun juga bercampur was-was. Hal ini disebabkan kedua anak tersebut memiliki kelainan di seluruh kulitnya. Sebelum timbul sisik-sisik, kulit kedua bocah kembar tersebut selalu berair.
Menurut Sunarto bapak kedua bocah tersebut, ketika dilahirkan kedua anaknya juga memiliki bola mata yang bulat dan besar. Waktu itu hidung dan telingganya kecil sekali. “ Sekarang lumayan, hidung dan telinganya sudah kelihatan,” kata Sunarto
Anehnya lagi, hingga sekarang kedua bola mata bocah kembar tersebut tidak bisa berkedip. Bahkan jika tidurpun mata Dina-Nina tidak terpejam. Sehingga jika tidur secara fisik tidak bisa dibedakan antara tidur dan melek. Namun akhir-akhir ini, kelopak matanya sedikit bisa terpejam jika sedang tidur.
Dina-Nina juga punya keanehan yang lain. Sampai sekarang mereka tidak mau makan nasi. Bocah kembar tersebut takut jika mencium bau nasi.
“ Sejak dilahirkan sampai sekarang ini, anak saya tidak mau makan nasi. Jika dekat atau melihat nasi, mulutnya dan hidungnya ditutup-tutupi,” kata Sunarto.
Bagaimana dengan makannya? Karena tidak mau makan nasi, maka orang tua Dina-Nina menggantinya dengan susu formula hingga sekarang. Namun karena kesulitan ekonomi, sekarang menu susu Dina-Nina diganti dengan teh manis.
” Jika ada rejeki banyak, ya kami beli susu,” imbuh Sunarto.
Selain susu, bocah kembar tersebut hanya mau makan makanan kecil ( snak) yang dijual di warung. Untuk memenuhi jajan kedua anaknya, setiap harinya Sunarto mengeluarkan uang Rp 15 ribu.
Kendati Dina-Nina memiliki kelainan pada kulitnya, pihak keluarga sangat menyayanginya. Demikian juga dengan para tetangganya. Lazimnya anak kecil, bocah kembar itu juga bermain. Namun frekuensinya sedikit. Dina-Nina banyak menghabiskan waktu-waktunya di dalam rumah sambil nonton TV. (deb)

Dua Orang Tewas Tak Wajar

md-lentis-saf.jpgPenjaga TK Tewas di Ruang Kelas
SEMARANG – Dua orang ditemukan meninggal tidak wajar di kota Semarang, Rabu (12/12) kemarin. Orang pertama yang tewas bernama Kosin alias Lentis (27), warga Jalan Brotojoyo Barat III Semarang Utara.
Pria yang tubuhnya dipenuhi tatto itu meninggal di warung jamu tradisional Bu Rini di Jalan Pemuda, dekat Pos Polantas Johar Semarang, pukul 11.00 WIB.
Orang kedua yang nahas adalah Suwarsono (49), warga Kanguru Gayamsari Semarang. Lelaki yang bekerja sebagai penjaga TK Bhayangkara Kabluk Semarang tersebut ditemukan tidak bernyawa sekitar pukul 06.00 WIB di ruang kelas TK tersebut. Oleh petugas Reskrim Polres Semarang Timur, kedua korban tewas dilarikan ke rumah sakit untuk divisum.

Tri Cahyani, penjaga warung jamu tradisional mengatakan, saat dirinya sedang menata dagangan, Lentis datang untuk membeli rokok dua batang. Namun Lentis tidak segera pergi dan duduk di kursi warungnya untuk ngobrol dengan temannya, Ari Wibowo.
Tak berselang lama, pria yang setiap harinya bekerja sebagai calo angkutan kota jurusan Panggung tersebut, tiba-tiba nggletak (jatuh, red). Dalam keadaan tak berdaya tubuh Lentis diangkat ke belakang warung.
Ketika akan diletakkan tanah, ternyata sudah dalam keadaan tidak bernyawa. “Saya tidak tahu sebabnya. Wong tiba-tiba jatuh sendiri. Pada saat duduk tadi, dia hanya minum air putih, thok, ”ujar Tri Cahyani.
Ari Wibowo yang diajak ngobrol korban mengungkapkan, penyebab tewasnya Lentis bukan karena dianiaya atau minuman keras. Namun karena sakit. Sebab selama ini Lentis mengaku sering mengeluh di bagian perutnya sering terasa sakit. Bahkan kalau sedang kumat rasanya sakit sekali.
“Sama sekali saya tidak menduga kalau dia akan meninggal secepat ini. Wong tadi juga terlihat biasa-biasa saja. Hanya saja, selama ini dia memang sering mengeluh perutnya sakit,” ucap Ari, warga Klaten itu.
Meski dari keterangan saksi menjelaskan tewasnya Lentis bukan sebagai korban pembunuhan, namun petugas Polsek Semarang Tengah dan Polres Semarang Timur yang tiba di TKP membawa jenazah Lentis ke RSUP Dr Kariadi untuk divisum.
Sementara itu, penyebab tewasnya penjaga TK Bhayangkara, Sumarsono juga diduga karena sakit. Sumrsono diduga meninggal, Selasa (11/12) sore, namun baru diketahui Rabu pagi, oleh Muhronji, warga setempat, ketika hendak masuk sekolah.
Pada saat ditemukan, kondisi Sumarsono dalam keadaan terlentang. Di raut wajahnya terdapat bercak-bercak darah. Dari pemeriksaan sementara di sekujur tubuhnya tidak ada tanda-tanda penganiayaan. (saf)

Wong Ayu Dihipnotis

SALATIGA- Gebyar Mutiarawati (47), warga Perum Wuni Benoyo II/8, Salatiga digendam dua lelaki tak dikenal.Uang tunai Rp 10 juta, 100 dolar Singapura dan dua cincin berlian amblas dibawa kabur pelakunya. Peristiwa yang menimpa wanita cantik tersebut terjadi di ATM BCA Mall Ramayana, Selasa (11/12) siang. Total kerugian yang diderita korban sekitar Rp 20 juta.
Dari rumah korban bermaksud mengambil uang ATM BCA di Mall Ramayana. Waktu itu korban mengendarai mobil Toyota Yaris. Sampai di Ramayana, istri karyawan pengeboran minyak di Singapura ini dicegat oleh dua lelaki tak dikenal berlogat Malaysia. Salah satunya mengaku bernama Rudy Wijaya bos PT Nasmoco. Setelah diajak salaman, kedua lelaki tersebut menawarkan kerjasama jual beli jam tangan merek Rolex.
Karena belum kenal, korban tidak mau. Namun kedua lelaki tersebut terus memaksanya. Korban kemudian pulang ke rumah, namun sebelumnya ia dimintai nomer handphone pelaku. Tak lama berselang korban dihubungi oleh pelaku untuk datang ke ATM BCA di Mall Ramayana.
Korban pun manut. Sampai di ATM BCA, pelaku meminta uang kepada korban dengan alasan untuk membeli jam tangan Rolex. Karena kena pengaruh hipnotis, korban akhirnya menyerahkan uang tunai Rp 10 juta yang baru diambil dari ATM.
Korban juga menyerahkan dua cincin berlian dan uang 100 dollar Singapura. Setelah itu kedua lelaki tersebut kabur dengan mengendarai Toyota Inova. Beberapa saat kemudian korban baru sadar jika telah ditipu. Selanjutnya kejadian ini dilaporkan ke Mapolres Salatiga. (deb)

Disosor Motor Luka Parah

DEMAK – Kasus tabrak lari masih saja terjadi di wilayah hukum Demak. Kali ini berlangsung siang kemarin di jalan umum Jl Sultan Fatah Kampung Bogorame Kelurahan Mangunjiwan Demak Kota, ruas jalan Semarang – Kudus. Sepeda motor tak dikenal melanggar motor lainnya di Km 24. Akibatnya, si pengendara motor bernama Aditya Yoga Mahendra (16) warga Kauman Gg II Demak Kota mengalami luka parah.
Pengendara Honda Supra Fit nopol H 2579 SE itu, kemudian harus dilarikan ke RSUD Sunan Kalijaga Demak. Korban mengalami luka patah pada kaki kirinya, serta luka di sekujur tubuhnya.
Kejadian tersebut bermula saat korban tengah mengendarai motor, meluncur pelan di jalan Sultan Fatah, siang kemarin pukul 13.45 WIB. Saat itu korban melaju dari arah Semarang hendak ke arah Kudus. Sesampai di lokasi kejadian, tepat di daerah Kampung Bogorame, sebuah motor tak dikenal melaju kencang dari arah belakang.
Tak diduga-duga, motor yang melaju kencang itu, menyerempet korban dari arah belakang. Tidak menduga akan disikat dari belakang, korban langsung kehilangan keseimbangan, dan jatuh mencium aspal. Melihat ini, pelaku penyerempetan bukannya menolong, tapi malah ngeblas kabur melarikan diri ke arah Kudus. Korban yang tergeletak tak berdaya kemudian dilarikan warga ke RSUD Demak. (adi)

Ngaku Majikan Tipu PRT

prt-ditipu-tio.jpgSEMARANG— Ayu Waharti (17) warga Jatisongo, Sumber Lawang, Sragen, Rabu (12/12) pukul 15.00 kemarin tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruang Sentral Pelayanan Kepolisian (SPK) Polwiltabes Semarang. Sembari menunjukan tas berisi perhiasan emas berlian serta uang tunai Rp 500 ribu, gadis berhidung mancung itu melaporkan baru saja jadi korban penipuan. Modusnya dengan mengabarkan soal kecelakaan.
Kali ini Ayu Waharto diminta oleh pelaku yang mengaku majikannya untuk mengambil perhiasan, dan uang tersebut dari kamar majikannya. Alasan untuk mengurus kasus kecelakaan yang dialami majikannya Lie Harto (45) warga Godangan, Grogol, Solo Baru. Tapi korban langsung sadar, sebelum pelaku sempat mengambil uang dan perhiasan yang sedianya akan diserahkan di Simpanglima Semarang.
Menurut Ayu kasus penipuan yang dialami berawal Rabu (12/12) kemarin sekitar pukul 10.00 WIB saat dirinya sedang memasak tiba-tiba telepon rumah berdering. Ketika diterima, dari balik telepon terdengar suara seorang lelaki yang mengatakan kalau bapak kecelakaan. Kontan saja korban terkejut, karena pagi itu majikannya Lie Harto mengantar anaknya ke sekolah, sedangkan istrinya Lili berangkat kerja.
“Bapak kecelakaan, sekarang akan diurus. Coba kamu ambil seluruh uang dan perhiasan untuk ganti rugi. Kalau kamar terkunci dibongkar saja. Karena waktu itu saya panik, langsung saya menurutinya membongkar kamar,” tutur Ayu.
Mendapat kabar tersebut Ayu buru-buru mengambil linggis, dan langsung menjebol kamar majikannya. Dari kamar itu Ayu mengambil seluruh uang dan perhiasan. Tidak lama kemudian pelaku menelepon lagi meminta Ayu ganti nomor HP-nya dengan nomor yang baru. Pelaku juga meminta Ayu memberinya nomor yang baru itu untuk dihubungi kembali. Setelah selesai membawa perhiasan berupa cincin, kalung, anting dan uang tunai Rp 500 ribu, Ayu kemudian berangkat ke Simpanglima Semarang seperti yang diminta pelaku.
Selama perjalanan di dalam bus, pelaku terus menelepon korban menanyakan sudah sampai di mana. Korban mulai curiga setelah pelaku merubah rencana pertemuannya yang semula di Simpanglima berubah ke Bandara A Yani. “Katanya saya terlambat, jenazahnya dibawa ke Jakarta. Lalu saya diminta ke bandara untuk naik pesawat. Mulai saat itu saya curiga dan menelepon rumah majikan saya,” ujarnya.
Korban yang mulai curiga langsung melepon rumah majikannya dan diterima Miniarti temannya sesama pembantu. Dari temannya itu korban baru tahu kalau majikannya tidak mengalami kecelakaan. Saat itu juga korban turun dari bus tepat di Jl dr Sutomo dekat RSUP Dr Kariadi. Dan, oleh satpam rumah sakit korban diantarkan ke Polwiltabes Semarang. Pihak kepolisian kemudian menghubungi majikan korban, ternyata dia juga sudah mencari, dan akan menjemputnya.
“Saya tidak berniat jahat. Waktu itu saya panik ada kabar tersebut sehingga saya bawa seluruh perhiasan dan uang ini. Takutnya majikan saya jadi marah,” tutur Ayu yang baru 7 bulan kerja di rumah majikannya.
Petugas SPK POlwiltabes Semarang dipimpin Kepala SPK Ipda Ali Santoso SH sempat melacak nomor ponsel pelaku. Tapi sudah keburu dimatikan sehingga kesulitan untuk mencari tahu identitas pelaku. (tio)